KONSULTASI
Logo

Harga TBS Bangka Belitung Masih Stabil, El Niño Mulai Bayangi Krisis Buah Sawit

29 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Harga TBS Bangka Belitung Masih Stabil, El Niño Mulai Bayangi Krisis Buah Sawit

sawitsetara.co – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih bergerak stabil di tengah tekanan El Niño dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kepulauan Bangka Belitung, Surisman, mengatakan harga TBS di Pulau Bangka saat ini berada di kisaran Rp3.000–Rp3.300 per kilogram. Sementara itu, harga TBS di Pulau Belitung mencapai sekitar Rp3.800 per kilogram.

“Untuk sementara harga sawit di Bangka Belitung cenderung stabil walaupun dalam keadaan El Niño disebabkan kekurangan air,” kata Surisman, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, kondisi kekeringan tidak hanya berdampak pada kebun petani, tetapi juga mulai memengaruhi operasional sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS). Beberapa PKS disebut harus menghentikan sementara kegiatan pengolahan karena keterbatasan air yang dibutuhkan dalam proses perebusan TBS.

“Tidak semua buka. Soalnya di mana-mana pada kekeringan air untuk merebus TBS tersebut,” ujarnya.

Di tengah berkurangnya jumlah PKS yang beroperasi, Surisman mengingatkan agar kondisi tersebut tidak dimanfaatkan untuk menekan harga TBS di tingkat petani.

Ia mengatakan, ketika sebagian PKS berhenti beroperasi, pasokan buah akan terkonsentrasi ke pabrik yang masih menerima TBS. Kondisi ini berpotensi membuat posisi tawar petani melemah.

apkasindo

“Karena banyak yang tutup, suplai di mereka sedikit, tiba-tiba banyak buah datang sehingga mereka menggencet harga karena pabrik lain tutup akibat tidak ada air untuk perebusan,” kata Surisman.

Menurutnya, stabilitas harga TBS perlu tetap dijaga agar petani tidak semakin terbebani oleh dampak kekeringan. Terlebih, kondisi kebun juga menghadapi tekanan akibat berkurangnya ketersediaan air.

Persoalan yang lebih serius, kata Surisman, justru berpotensi muncul pada tahun berikutnya. Kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit sehingga berdampak terhadap jumlah buah yang dihasilkan petani.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama tanpa hujan yang memadai, produksi TBS dikhawatirkan turun signifikan dan pada akhirnya memicu krisis pasokan buah sawit.

“Kalau tidak ada hujan, sawit bisa kering dan tidak berbuah tahun depan. Nanti krisis TBS yang menjadi masalah,” tuturnya.

Karena itu, Surisman berharap hujan segera turun di seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Bagi petani sawit, datangnya hujan bukan hanya berkaitan dengan kondisi kebun saat ini, tetapi juga menentukan keberlangsungan produksi pada musim berikutnya.

“Kita berharap kepada Allah SWT agar secepatnya diturunkan hujan,” ujarnya.

Tags:

Harga TBS Babel

Berita Sebelumnya
Petani Sawit Sarawak Didorong Diversifikasi Hadapi Tekanan Pasar Global

Petani Sawit Sarawak Didorong Diversifikasi Hadapi Tekanan Pasar Global

Pekebun kecil kelapa sawit di Sarawak, Malaysia, didorong tidak hanya bergantung pada satu komoditas untuk menjaga ketahanan pendapatan. Diversifikasi tanaman dan hasil pertanian dinilai penting di tengah perubahan persyaratan keberlanjutan sawit serta tuntutan pasar global yang semakin kompleks.

28 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *